Saat Tuhan Dipaksa Nyoblo
Tahun ini—15 februari 2017— pilkada serentak
gelombang kedua digelar di 101 daerah— dari ujung sabang sampai merauke— yaitu
di 7 provinsi, 18 kota dan 76 kabupaten.
Pilkada serentak tahun ini, banyak meninggalkan
cerita—lucu, sedih, maupun horor— baik dari proses pencalonan, kampanye sampai
pemilihan berlangsung, bahkan nampaknya masih akan ada banyak cerita lagi
sampai pada pilkada putaran kedua bulan april nanti.
cerita yang paling horor dalam pilkada serentak
ini adalah ketika tuhan dipaksa untuk ikut berkampanye, dan nyoblos untu
memenangkan pasangan calon tertentu.
Nah, Karna tuhan telah masuk dalam tim
pemenangan, jadi mereka merasa memiliki hak untuk berkampanye di rumah-rumah
tuhan—meskipun hal ini tidak patut, namun dipatutkan—, hal ini sebagai bentuk
kontribusi nyata tuhan dalam keikutsertaannya.
Bahkan hal yang paling pribadi dari sisi tuhan,
yaitu hak prerogatif tentang sorga dan neraka, mereka mainkan sebagai alat
politik. Bagamana tidak, orang bisa dipastikan masuk sorga dan neraka hanya
karena memilih dan tidak memilih pasangan calon tertentu.
Belum selesai sampai disitu, bahkan ada lagi yang
lebih horor yaitu “politisasi mayat”, akhir-akhir ini ada beberapa baliho yang
terpasang di ruang-ruang publik dan mesjid dengan konten bahwa “mesdjid ini
tidak mensholatkan jenazah yang memilih dan mendukung....”
Bagamana mungkin, para imam masjid dan
tokoh-tokoh agama yang mengerti hukum agama membiarkan hal itu terjadi
mesjid-mesjid mereka, padahal mereka tahu betul hukum mengurus jenazah adalah wajid kifayah.
Mereka banyak meneriaki dan mencaci seseorang
sebagai “penista agama”, namun tanpa mereka sadari mereka telah menistakan
jenazah seiman yang airtinya telah menistakan hukum agama, dan hal ini juga
bisa dikatakan sebagai “penistaan agama”.
Pilkada serentak ini juga banyak memakan
korban. Banyak kaum muslimin yang ditudu dan diklaim syahadat mereka telah
batal, mereka telah kafir, dan bahkan darah mereka dianggap halal.
Bagamana mungkin orang dipastikan masuk sorga
dan neraka semata-mata karna urusan
pilkada?, bahkan orang dituduk kafir dan munafik, hanya karan berbeda
pilihan politik?
Yasudahlah.. Sambil memikirkan jawabannya, ku
seruput sajalah secangkir kopi pahit ini, karena secangkir kopi pahit ini ternyata
lebih jujur dari pada mereka yang banyak mengaung dengan sorban dan jubah putih
mereka..

Komentar
Posting Komentar