Para Pencari TUHAN
# Para Pencari Tuhan #
Empat tahun lalu ketika masih menjadi para pencari Tuhan.
Siang malam, ku lalu lalang, kesana kemari mencari yg namanya "Tuhan"..
Seseorang berkata kepadaku bahwa tuhan berada di rumah-rumah ibadah.
Ku sucikan diri, ku langkahkan kaki menuju rumah-rumah ibadah. namun tak ku temukan "tuhan" disana.
Yang kutemukan hanyalah klaim dan pengkaplingan surga-neraka.
Hingga akhirnya dalam doa, aku tidak lagi meminta surga karna surga telah habis diklaim dan dikapling.
Seseorang berkata lagi kepadaku, "tuhan" ada bersama para jamaah pengajian.
Malam itu ku hadir dalam majelis pengajian, namun tetap saja tak ku temukan tuhan disana.
Yang kutemukan hanyalah suara lantang penuduhan bid'ah, murtad, kafir, syirik, dan munafik.
Hingga akhirnya terbayang dalam benakku betapa banyak pemeluk agama yg dimurtadkan dari agamanya sendiri..
Huhh.. pencarian yang semu. Tak ku temukan "tuhan" dimana pun.
Ku seruput secangkir kopi di atas meja belajar, dan akhirnya aku merasakan kehadiran tuhan dalam secangkir kopiku.
Secangkir kopi pun berbisik kepadaku, "wa hua ma'akum ainama kuntum"
bahwa tuhan tidak berada dimana-mana, dan tidak kemana-mana, "dia bersamamu dimanapun kamu berada"
Ku seruput lagi, dan secangkir kopi itupun berbisik lagi kepadaku " ana 'inda zhonni 'abdi bii", aku berda pada prasangka hambaku.
Dari sinilah awal cerita mengapa aku selalu memilih secangkir kopi untuk menemani hari-hariku...
Empat tahun lalu ketika masih menjadi para pencari Tuhan.
Siang malam, ku lalu lalang, kesana kemari mencari yg namanya "Tuhan"..
Seseorang berkata kepadaku bahwa tuhan berada di rumah-rumah ibadah.
Ku sucikan diri, ku langkahkan kaki menuju rumah-rumah ibadah. namun tak ku temukan "tuhan" disana.
Yang kutemukan hanyalah klaim dan pengkaplingan surga-neraka.
Hingga akhirnya dalam doa, aku tidak lagi meminta surga karna surga telah habis diklaim dan dikapling.
Seseorang berkata lagi kepadaku, "tuhan" ada bersama para jamaah pengajian.
Malam itu ku hadir dalam majelis pengajian, namun tetap saja tak ku temukan tuhan disana.
Yang kutemukan hanyalah suara lantang penuduhan bid'ah, murtad, kafir, syirik, dan munafik.
Hingga akhirnya terbayang dalam benakku betapa banyak pemeluk agama yg dimurtadkan dari agamanya sendiri..
Huhh.. pencarian yang semu. Tak ku temukan "tuhan" dimana pun.
Ku seruput secangkir kopi di atas meja belajar, dan akhirnya aku merasakan kehadiran tuhan dalam secangkir kopiku.
Secangkir kopi pun berbisik kepadaku, "wa hua ma'akum ainama kuntum"
bahwa tuhan tidak berada dimana-mana, dan tidak kemana-mana, "dia bersamamu dimanapun kamu berada"
Ku seruput lagi, dan secangkir kopi itupun berbisik lagi kepadaku " ana 'inda zhonni 'abdi bii", aku berda pada prasangka hambaku.
Dari sinilah awal cerita mengapa aku selalu memilih secangkir kopi untuk menemani hari-hariku...
Komentar
Posting Komentar