Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Agama dan Akal.

Gambar
Agama Adalah Akal, Tak Menggunakan Akal, Tak Beragama (Imam Sadiq)      Wahyu yang suci diterjemahkan apa adanya atau tekstual, maka akan menghasilkan tafsiran tunggal. Sehingga akhirnya, hasil dari tafsiran tunggal ini berujung pada sadisme dan berutalisme. Agama yang awalnya mengajarkan kasih sayang, akhlak dan moral terpuji, membangun peradaban tinggi, menghargai hak-hak sesama, kemudian tiba-tiba berubah menjadi horor, menakutkan, sadisme, berutalisme, mudah tersulu temosi, anti peradaban, bahkan tidak memiliki toleransi dan kaku. Pemahaman agama yang ekstrim, kaku dan keras merupkan hasil dari pembacaan sumber-sumber ajaran agama secara tekstual. Hal ini juga yang membuat mereka menolak keras rasionalistas, tradisi, dan khazanah inteltual islam yang sangat kaya.  Pemahaman-pemahaman seperti ini telah membuat teks-teks suci menjadi corpus, tertutup dan sempit, sehingga teks-teks suci tersebut terputus dari konteks kekinian. Islam yang awalnya apr...

Berbisnis dengan Allah

# takutlah berbuat buruk, Jangan takut berbuat baik # Pengantar.             Banyak orang yang mengaku telah beriman kepada allah, malaikat-malaikatnya, rasul-rasulnya, kitab-kitabnya, dan hari kiamat, namun kenyataannya apa yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan hakikat keiman yang sesungguhnya.              Sebagamana yang kita ketahui bersama, kita sekarang hidup di zaman matrialis, segala sesuatunya di nilai dengan materi, materi menjadi tolak ukur dalam hidup ini. Dan hal ini sangat berbahaya bila diterapkan atau diimplementasikan dalam kehidupan beragama,                     Contoh : Banayak  saudara-saudara kita kaum muslimin masi enggan untuk mengeluarkan zakat, atau bersedekah dan  jihad dijalan allah, padahal tidak sedikit d...

Sajak Tentang Ayah

Ayah Ayah.. Malam terasa hampa Cahaya rembulan tak berdaya Hembusan angin malam tak tahu entah kemana Bahkan Kebisingan kota seolah terdiam tanpa kata. ayah... di malam yang sunyi ini terasa kuberdiri di atas tebing nan tinggi terlihat, pepohonan yang biasa menari dan bernyanyi seolah merenung meratapi diri.. air mata menetes tanpa kusadari mengalir dan membasahi pipi. ayah... ku teringat semua perjuangan dan kerja kerasmu kau memang tak menyusuiku seperti ibu tapi, tiap tetesan keringatmu telah membesarkanku, kau memang tak secerewet ibu untuk mendidiku tetapi diammu mengajariku sabar atas beban yang ada di pundakku.   Ayah... bila ku ditanya tentang pahlawan yang paling kuat, maka namamu ayah, yang paling pertama ku sebut untuk ayah Malik Ibrahim