Agama dan Akal.
Agama Adalah Akal, Tak Menggunakan
Akal, Tak Beragama (Imam Sadiq)
Wahyu yang suci diterjemahkan apa
adanya atau tekstual, maka akan menghasilkan tafsiran tunggal. Sehingga
akhirnya, hasil dari tafsiran tunggal ini berujung pada sadisme dan
berutalisme.Agama yang awalnya mengajarkan kasih sayang, akhlak dan moral
terpuji, membangun peradaban tinggi, menghargai hak-hak sesama, kemudian tiba-tiba
berubah menjadi horor, menakutkan, sadisme, berutalisme, mudah tersulu temosi,
anti peradaban, bahkan tidak memiliki toleransi dan kaku.
Pemahaman agama yang ekstrim, kaku
dan keras merupkan hasil dari pembacaan sumber-sumber ajaran agama secara
tekstual. Hal ini juga yang membuat mereka menolak keras rasionalistas,
tradisi, dan khazanah inteltual islam yang sangat kaya.
Pemahaman-pemahaman
seperti ini telah membuat teks-teks suci menjadi corpus, tertutup dan sempit,
sehingga teks-teks suci tersebut terputus dari konteks kekinian. Islam yang
awalnya apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat tiba-tiba
menjadi kaku, keras dan tidak berperasaan ditangan mereka.
Mungkin, memahami agama secara
tekstual dan indoktrinal sebagai usaha mereka untuk menghindari kompleksitas
pemahaman dan prektek hukum umat dalam beragama. Namun, bila membayangkan
setiap individu dan masyarakat mau mengamalkan agama secara harfiah dari
al-quran dan hadir, tanpa pendekatan tradisi dan budaya setempat tertentu, ini
sangat tidak realistis dan hanya merupakan mimpi belaka.
Justru usaha memahami
ajaran agama secara tekstual merupakan sebab dari ketidak mampuan dalam
memahami kompleksitas realitas soaial dalam kaitannya dengan pesan-pesan luhur
ajaran agama. Dan akibat dari semua ini, semuanya berhenti pada daya tampung
pembaca. semua keluhuran dan keluasan nilai agama kandas dan terbentur oleh
keterbatasan daya pikir mereka yang sempit dan kaku.
Muhsin Labib mengatakan, Pedoman
hidup adalah agama, sumber agama adalah al-qur’an dan sunnah, dasar pemahaman
al-qur-an dan sunnah adal akal. Agama tanpa akal adalah dominasi dan
kesewenang-wenangan berbungkus kepatuhan, akal tanpa agama adalah arogansi dan
keliaran berbungkus kemerdekaan. Tanpa agama, logika menjadi liar. Tanpa
logika, agama menjadi kaku. Logika dan agama adalah dua sayap relijius moderat. Menolak logika dengan alasan
menjadikan kitab suci sebagai pedoman berarti menganggap karunia akal sebagai
kesiasiaan, dan anggapan ini tidak sesuai dengan kitab suci.

Komentar
Posting Komentar