Penista Agama ?
“PENISTA AGAMA ?”
Belakangan ini, kata “penista agama” begitu rame dibicarakan,
hampir setiap orang mengambil perannya masing-masing, mulai dari siswa sampai
mahasiswa, mulai dari guru sampai doseng, mulai dari ustadz-ustazd karbitan
sampai ustadz beneran, mulai dari imam rumah tangga sampai imam masjid.
Ungkapan “penista agama” ini sering kali disematkan dengan
kata-kata yang bernada negatif, seperti “tangkap penista agama”, “penjarakan
penista agama”, bahkan yang lebih ngeri lagi mereka menyematkan kata bunuh, “bunuh
penista agama”, “penista agama tidak pantas hidup”
Ungkapan “penista agama” ini sepeti benda busuk yang sangat
menjijikkan, bagaikan bangkai yang tergeletak ditengah jalan, yang hampir semua
orang menutup hidung dengan tangannya sambil berlarian untuk menghidar saat
melaluinya.
Setiap orang menghujat “penista agama”, membencinya dan murka
kepadannya. Bahkan tidak jarang ada mengambil sikap tuhannya, dengan mengatakan
“tidak ada maaf bagi penista agama”.
Seolah tuhan telah lelah mengurus hiruk pikuk dunia dan
seluruh isinya, hingga tuhan harus bristirahat di singasanaNya dan memberikan
mandat kepada mereka untuk menggantikan posisi tuhan untuk sementara waktu.
Atau mungkin mereka menganggap komputer yang dipakai oleh
malaikat untuk mencatat seluruh amal manusia sering bermasalah, karena listrik
di daerah tempat malaikat bekerja sering mati, dan mengalamai pemadaman
bergilir, tiga hari mati lampu dan satu hari lagi menyala.
seperti yang terjadi di hampir seluruh daerah-daerah timur
negeri ini. Sehingga mereka takut dan khawatir catatan dan data yang dimiliki
oleh malaikat tentang seluruh amal perbuatan manusia tidak valit lagi.
Ada pula yang mengatakan kalau kami tidak boleh menghukumnya
karena mengambil hak tuhan, kenapa kalian memaafkannya, bukankah dengan
memaafkannya juga telah mengambil hak tuhan?.
Pertanyaan seperti ini perlu dijawab dengan pertanyaan juga,
apakah murka dan laknat tuhanmu melaumpai rahmat-Nya?, bukankah tuhanmu maha
pengampun dan pemberi ampunan, al ghaffaar, al ghafuur, dan at tawwab ?
Bukankah setiap hari kau sujud siang dan malam, hingga
berbekas hitam pekat didahimu, sambil menyebut nama-Nya sebagai tuhan yang Maha
Pengasih lagi Maha penyayang? Tidakkah kau memperhatian 99 nama-nama-Nya yang
baik nan agung?
Bagamana bisa kau mengenalnya kalau hanya sekedar namanya
saja kau tak tahu? yang paling mendasar kenalilah dirimu terlebih dahulu,
karena bagaman mungkin kau bisa mengenali tuhanmu kalau kau sendiri tidak
mengenal dirimu?
Dan ada benarnya juga “ belajarlah jadi manusia terlebih
dahulu, agar kelak saat kau telah belajar agama kau tidak bertidak seperti
tuhan, tapi tetap bertindak sebagamana manusia yang tahu agama”.
Pertanyaannya sekarang, mungkinkah agama bisa tersentuh oleh
penistaan, perilaku manusia? Kalau jawabannya
iya, meskipun hal itu sangat diragukan. Maka kerlepas dari konteks apapun
itu, tidakkah kita sadar hampir setiap kita adalah penista agama?
Loh kok bisa? Ya bisalah. Bukankah setiap kita juga sering
melanggar perintah dan larangan agama, baik ritual mapun sosial? Bukankah
semestinya kita harus shaleh ritual dan dalam waktu yang bersamaan juga kita
harus shaleh secara sosial.
Sudahkah ada jaminan buat mereka yang sering berteriak
tentang “penista agama” menyelesaikan kesempurnaan ritualnya? Kalau belum bisa
menjamin, kenapa begitu getol menghujat “penista agama” kalau diri sendiri
masih sering “menista agama” sendiri?
Sekedar taat beribadah saja tidak cukup, bukankah iblis juga
hamba tuhan yang sangat taat beribadah saat itu, tapi apa yang terjadi padanya?
Tuhan sangat murka kepadanya karena kesombongan yang begitu tinggi, ia menolak
perintah tuhan untuk memberikan hormat kepada Adam, hanya larena dia memiliki
persepsi dirinya lebih mulia dari adam, adam diciptakan dari tanah sedangkan
dirinya diciptahan dari api.
Kebenaran itu milik tuhan, adapun kebenaran yang kita yakini
masing-masing, itu hanya kepingan kecil dari kebenaran. Lantas mengapa kita
harus memaksakan kebenaran yang kita yakini pada orang lain, bukankah orang
lain juga memiliki keyakinan akan kebenaran itu sendiri?
Komentar
Posting Komentar