Geraka Atisipatif NU Terhadap Ekstremisme
NU adalah ahlusunnah (asli), penganut paham moderat (wasathiayyah).
NU sangat menjaga tradisi-tradisi ahlusunnah—maulid, tahlil, barzanji, ziarah
kubur, tawasul, dll— yang selama ini diamalkan dan tetap akan dipertahankan oleh
sebagian besar muslim nusantara.
Belakangan ini, banyak bermunculan para penceramah (mubaligh)—yang mengaku-ngaku ulama— mencatut nama ahlusunnah sebagai media untuk memikat jamaah.
Mereka berpidato dan berceramah di mimbar-mimbar mesjid dengan tidak segan menelanjangi tradisi ahlusunnah. Mereka juga membuat julukan (Laqhob) untuk para pengamal tradisi-tradisi ahlusunnah sebagai “Ahlul Bid’ah” (penganut bid’ah).
Gerakan mereka berpola, dan sangat masif untuk memperluas paham ekstremis, denga melakukan ekspansi mesjid dan dengan senjata takfiri dan pemembid’ahan terhadap amaliah sebagian besar umat muslim nusantara.
NU adalah pihak yang sangat dirugikan dan terusik oleh oknum-oknum yang mencatut nama ahlusunnah tersebut, namun bertindah kontras dengan paham ahlusunnah itu sendiri.
GP Ansor sebagai bagian dari NU sudah semestinya bahkan harus bertindak tegas, sebagai bentuk gerakan responsif dan antisipatif terhadap ekstremisme yang bersembunyi dibalik nama ahlusunnah, namun menggrogoti dan menelanjangi tradisi ahlusunnah.
Komentar
Posting Komentar